Bersama Sekjen Kemendiknas, Bapak Dodi Nandika di Hotel Ambhara, Jakarta (Rabu, 18/8/10)

Jumat, 20 Maret 2009

EKSPLORASI GERAK DALAM ”KAULINAN BARUDAK”, Anjungan, Kompas Lembar Jawa Barat, Sabtu, 17 Mei 2008


OLEH : AJENG KANIA

“Kaulinan barudak” atau permainan anak yang berbasis gerak seperti: bebentengan, galah, ucing sumput, perang-perangan, dan lain-lain semakin tersisih akibat pergeseran gaya hidup dan tergerusnya lahan anak bermain. Padahal, dengan mengeksplorasi gerak dapat tercipta kualitas masyarakat yang sehat, energik dan ceria.

“Kaulinan barudak” yang diturunkan antargenerasi secara tradisi menjadi permainan rakyat (folklor), sesungguhnya kaya akan nilai kolektivitas, edukasi, dan sumber keceriaan anak. Di samping itu, kaulinan barudak pun mampu menjadi media mengeksplorasi lingkungan sesui dengan fitrah anak untuk bermain, bergerak, dan menjadikan budaya gerak di kalangan mereka.

Nilai kolektivitas efektif sebagai sarana bergaul, memahami perbedaan, dan merajut jiwa korsa (kerjasama). Sementara ditinjau dari unsur edukasi, “kaulinan barudak” mendorong anak aktif, disiplin, taat asas, menghormati, dan legawa saat kalah-menang dalam permainan. Yang tak kalah penting, lewat “kaulinan barudak”, anak-anak bisa mengekspresikan emosinya seperti: berteriak, menghela nafas, bersenda gurau, tertawa lebar, dan ceria.

Kaulinan barudak yang semestinya merupakan sarana anak bergaul dan mengeksplorasi budaya gerak kini berangsur ditinggalkan. Perubahan gaya hidup yang terjadi di masyarakat membuat orang tua semakin memanjakan anak-anak mereka dengan permainan digital. Akibatnya, anak-anak lebih banyak tenggelam di kamar masing-masing, asyik dalam Playstation, permainan di komputer, Nintendo, atau menonton film kartun yang relatif statis (diam berjam-jam).

Bila dicermati, permainan digital serba otomatis cenderung mematikan inisiatif dan kreativitas anak. Ditinjau aspek sosial, hal ini merugikan anak. Anak dibuat betah tepekur mengisolasi diri berjam-jam. Ini kontra-produktif dengan fitrah mereka yang memerlukan kelompok sebaya dan realitas dunia bermain yang banyak mengeksplorasi gerak dan ceria.

Adapun ditinjau dari aspek kesehatan, gejala hipokinetik (gejala penyakit kurang gerak) dapat menjadi ancaman serius bagi kualitas kesehatan bangsa di masa depan. Berkolaborasi dengan tren gaya hidup serba instan dan makanan lezat kaya lemak, gejala hipokinetik memacu kegemukan tubuh (obesitas), yang ditandai kondisi fisik anak cenderung lamban, mudah lelah, dan malas.

Berbagai potensi penyakit sebenarnya dapat dicegah dengan aktivitas berbasis gerak, pola hidup sehat, serta asupan gizi berimbang. Masyarakat yang dalam aktivitas sehari-hari semakin tergantung pada kendaraan sekali-kali dapat menggerakan tubuhnya dengan berjalan kaki. Bial biasanya naik-turun eskalator atau lift, sekali-kali diusahakan naik-turun melalui anak tangga. Kaulinan barudak di samping memiliki kearifan nilai-nilai kehidupan, juga amat penting karena eksplorasi gerak tubuh mereka berguna bagi pertumbuhan jasmani dan kesehatan sebagai investasi berharga menghadapi masa depan.


ruang publik

Faktor lain penyebab ”kaulinan barudak” semakin ditinggalkan adalah kian sempitnya lahan bermain anak. Kaulinan barudak seperti galah yang bisa dilakukan anak-anak pada malam bulan purnama memerlukan lahan luas. Dalam permainan inisatu per satu anak dalam kelompoknya harus melewati ”kamar” satu - petak ditandai kapur atau air - ke kamar lain sehingga ujung dan kembali lagi dengan garis dijaga pihak lawan. Bila salah satu anggota dapat tersentuh pihak lawan, berarti permainan beralih. Permainan ucing sumput, bebentengan, peperangan, dan lain-lain pun tidak leluasa dilakukan di sebuah gang sempit, apalagi ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, orang, dan gerobak.



Kesulitan memiliki halaman sekolah yang representatif pada sebuah satuan pendidikan, terutama sekolah dasar di perkotaan adalah realitas. Tidak sedikit sekolah bangga jika mampu membangun ruang kelas baru meskipun harus menggusur lahan bermain anak. Lahan bermain anak di masyarakat juga semakin tergerus oleh pemukiman penduduk yang semakin padat. Adapun para pengembang perumahan alpa menyediakan ruang publik di komplek perumahan. Arena bermain anak kini banyak dijumpai di mal atau arena outbond yang jelas hanya dapat dijangkau kalangan tertentu.

Tampaknya kebutuhan ruang publik gratis bagi masyarakat menjadi masalah urgen. Pemerintah daerah, pengembang, pihak swasta dan masyarakat sendiri harus berusaha menyediakan ruang publik sebagai sarana warga mengekspresikan aktivitas berbasis gerak, seperti berolah raga dan bermain.

Dengan aktivitas kebugaran jasmani – permainan berbasis gerak, olah raga dan sebagainya – segala penyakit yang berhubungan dengan aliran darah seperti tekanan darah, kolesterol, denyut nadi, dan jantung tidak menjadi soal. Kapasitas darah pembawa oksigen yang semakin besar juga membuat tubuh terasa segar. Aktivitas gerak efektif mengurangi lemak tubuh sehingga mempercantik tubuh (atletis). Satu hal penting, aktivitas gerak membuat pikiran lebih segar dan jernih. Anak-anak bakal lebih lincah, sehat dan ceria.

Awas kios liar

Andaikata sudah terwujud, hendaknya ruang publik dipertahankan sebagai pusat kegiatan warga untuk berolahraga. Kalau tidak, bukan tidak mungkiin tempat tersebut bakal dihuni kios-kios liar yang kumuh. Atau pada Minggu pagi lahan yang sem,estinya digunakan kegiatan olahraga malah dihuni pedagang kaki lima yang memanjakan naluri konsumtif warga dengan aneka fashion, kuliner, dan sebagainya.

Kalau sudah begitu, suasana Minggu pagi yang semestinya rileks, segar, ceria, dan saling menebar senyum saat berolahraga berubah menjadi penat dan sumpek ketika orang berdesak-desakan berbaur dengan kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan sehingga membuat kepala bertambah pening. Contohnya ialah di Lapangan Gasibu.

Akibat minimnya ruang publik, ketika bermain anak-anak harus berebut tempat dengan kendaraan yang saling serobot. Selain tidak aman, sumbangnya suara knalpot dan pekatnya asap kendaraan membuat tidak nyaman. Masih adakah ruang publik gratis untuk jogging, anak-anak bermain dengan sebayanya, atau sekadar menggerakkan otot kaki? (**)


Penulis, guru Penjaskes,
SDN Taruna Karya 04, Kecamatan
Cibiru – Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar