
OLEH : AJENG KANIA
Permainan “ngadu langlayangan” mengasyikan. Bukan cuma anak-anak, orang dewasa pun sering turut larut beradu kelihaian dan menguji ketajaman tali “gelasan” ini. Ngarucu (mengejar layang-layang putus milik orang lain) pun tak kalah unik. Mendapatkan sejumlah layang-layang putus dapat menaikkan statusnya makin disegani rekannya. Karena tidak jarang rebutan layang-layang berakhir di-jojoet (dirusak secara bersama-sama).
Hasrat memainkan layang-layang umumnya selalu menggelora – tak terkecuali orang dewasa - meskipun realitas suasana dan kondisi lingkungan telah berbeda. Nostalgia tempo dulu di desanya yang masih didominasi ruang terbuka mampu membangkitkan sisi kanak-kanaknya untuk bersuka ria melupakan problematika kehidupan sejenak. Suasana hati senang dan santai dapat menciptakan suasana rileks dan dapat mengembalikan kesegaran pikiran mereka.
Minimnya arena tanah lapang membuat bermain layang-layang dibayangi sejumlah risiko. Bahaya permainan layang-layang di jalan raya bukan saja bagi dirinya tetapi orang lain. Benang gelasan yang melintang di tengah jalan akan melukai pengendara sepeda motor atau pejalan kaki. Benang dan layang-layang sering menyangkut pada jaringan listrik memaksa petugas PLN harus ekstra membersihkannya. Bahkan penggunaan gelasan dan tali kawat dapat menimbulkan bahaya lebih besar yakni konsluiting listrik dan tersengat aliran listrik. Begitu pun bagi anak biasa ngarucu, seringkali mengabaikan keberadaan lubang galian atau lalu-lalang kendaraan seringkali mencelakakan dirinya.
kaya inspirasi
Permainan layang-layang sudah dikenal ribuan tahun lalu. Menurut situs wisatanet.com di Museum Layang-layang Indonesia Jl. H Kamang 38 Pondok Labu Jakarta terdapat layang-layang berusia 4.000 tahun lalu dengan panjang 130 cm dan lebar 120 cm. Permainan ini cukup membumi di belahan Nusantara dan menjadi tradisi sebagai permainan rakyat (folklor). Permainan layang-layang sesungguhnya amat baik bagi anak-anak. Dari permainan itu didapat semangat kerjasama, mengenal alam dan semangat kerja keras. Kaulinan ini pun mampu menjadi media mengeksplorasi lingkungan sesuai dengan fitrah anak untuk bermain, bergerak, dan sumber keceriaan. Dapat dibandingkan, anak-anak mengakrabi permainan ini memiliki kemampuan motorik lebih yakni lebih gesit, cekatan, dan lincah dibandingkan anak dibesarkan oleh permainan digital.
Selain cukup tersedia di warung-warung, layang-layang bisa dibuat sendiri. Untuk membuat layang-layang konvensional sederhana, cukup dibutuhkan dua bilah buluh (bambu) yang sudah diraut, benang, lem, kertas serta kuas dan beberapa cat untuk melukis. Motif dominan layang-layang adu disukai anak-anak berupa garis berwarna merah dan biru. Setelah diberi tali timba, layang-layang siap mengangkasa.
Di kalangan anak-anak, ada sejumlah sejumlah aturan tidak tertulis yang dihormati oleh mereka. Contohnya, layangan menggunakan ekor panjang diasumsikan milik anak kecil sehingga dilarang untuk disambar. Begitupun layangan berbeda ukuran baik ukuran jumbo (besar) atau kecil juga pun layangan hias pantang untuk diadu. Pada kasus layang-layang putus, dapat di-rucu oleh siapa pun. Dan bagi yang menyentuh pertama kali maka dialah berhak memiliki layang-layang tsb. Uniknya, bila ada dua atau lebih anak berebut layangan tanpa bisa diputuskan pemenangnya segera, solusinya di-jojoet (dirusak sama-sama). Anehnya, mereka menerima keputusan jojoet ini sebagai keputusan adil (fair) terbukti mereka rukun kembali.
Lalu mengapa anak-anak tetap asyik bermain di jalan raya atau pemukiman padat? Mestikah orang tua secara ekstrim melarang anak bermain layang-layang? Sikap anak-anak tetap memaksa memainkan layang-layang di tempat sempit, kalau dihayati, mungkinkah sebuah bentuk protes atas ketidaktersediaan tanah lapang dan ruang publik bagi mereka? Ruang terbuka makin tergerus oleh derap laju pembangunan yang ironinya merampas ruang yang sejatinya sarana anak-anak bermain. Padahal dengan permainan ini anak belajar mengembangkan potensi dirinya dan beraktualisasi, bergaul, menghormati hak-hak orang lain, taat asas dan kehidupan sosial dengan sebayanya.
Dalam hal ini perlu perhatian orang tua untuk menyikapi fenomena di atas secara bijak tanpa membunuh kreativitas anak. Perlu solusi cerdas untuk menjadikan permainan layang-layang tetap dinikmati, aman dan mengasyikan. Artinya: permainan dijamin aman dan hobi tidak tersumbat. Beberapa langkah dapat ditempuh : (a) menemani anak bermain di tanah lapang sekaligus mengisi waktu luang. Sentuhan dan perhatian ini akan membahagiaan anak merasa dihargai dan diperhatikan; (b) mengadakan pekan layang-layang di tingkat lokal (seperti: RW/kelurahan). Cara efektif melokalisir arena permainan dan mereduksi risiko bahaya. Bagi komunitas penggemar layang-layang dapat digunakan media berkomunikasi, berbagi informasi dan berinteraksi; (c) mengadakan kejuaraan atau festival layang-layang. Cara ini sangat baik untuk mengasah kreasi, imajinasi dan prestasi anak. Momen ini tidak lagi mengarahkan bermain layang-layang saling mengalahkan dengan memutus talinya, tetapi penilaian aspek seni dan kreativitas seperti: keunikan, motif hias, ketinggian, atau kemampuan manuver di angkasa.
Bila diresapi, permainan layang-layang ini kaya inspirasi. Bukankah Benjamin Franklin menemukan arus listrik dan penangkal petir berdasarkan logika dan eksperimen yang diperoleh ketika bermain layang-layang? Permainan ini membantu untuk memahami logika alam, bagaimana tenaga angin bisa menerbangkan sebuah benda ke angkasa. Energi ini pula menginspirasi para ahli untuk melirik layang-layang dapat menggerakan turbin sebagai alternatif sumber listrik di masa depan. Di saat mata tengadah, layang-layang ibarat noktah ditelan luasnya cakrawala mengingatkan diri kita, betapa kecil kita di hadapan-Nya sekaligus membuktikan betapa agungnya Sang Pencipta. (**)
Penulis, Guru SDN Taruna Karya 04,
Kecamatan Cibiru – Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar