Bersama Sekjen Kemendiknas, Bapak Dodi Nandika di Hotel Ambhara, Jakarta (Rabu, 18/8/10)
Tampilkan postingan dengan label Kompas Lembar Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompas Lembar Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2009

Memaknai Liburan, Forum: Kompas, Rabu, 1 Juli 2009



Oleh AJENG KANIA

Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hatiku gembira! Pekan ini, liburan panjang siswa sekolah dimulai. Selaras lirik lagu Tasya, liburan selalu ditunggu secara antusias oleh anak-anak.

Sekarang ini manusia modern cenderung menghabiskan waktunya untuk bekerja. Kecenderungan itu diakibatkan dinamika kehidupan bergerak cepat dan bersaing ketat. Manusia dipaksa terus-menerus memenuhi sejumlah ambisi demi menggapai materi dan gengsi yang merupakan tuntutan hidupnya.

Sama halnya orang dewasa, anak-anak sejak belia pun telah dikenalkan dengan kegiatan berjadwal ketat. Mereka harus bangun pagi, tiba di sekolah tepat waktu, berkonsentrasi belajar di kelas, mengerjakan berbagai tugas dan pekerjaan rumah, dan ikut sejumlah privat dan les. Pada akhir tahun pelajaran mereka dihadapkan pada ujian kenaikan kelas yang mengharuskan berpikir dan belajar ekstra.

Rutinitas tersebut tentu cukup menguras energi, konsentrasi, dan ketegangan, tak kalah dibandingkan dengan beban orang dewasa. Tak pelak, musim liburan tiba selalu disambut dengan hati riang dan sumringah. Mereka bakal melepas sejenak segala beban di pundaknya untuk kembali menikmati masa kanak-kanaknya yang tersita.

Fitrah anak


Sejatinya, liburan memberi kesempatan bagi anak-anak dari belenggu kejenuhan yang mendera mereka sebelumnya. Adalah tidak cerdas bila dalam liburan panjang ini akan-anak masih dibebani sisa pekerjaan sekolah, tugas-tugas, atau kegiatan lain yang bersifat serius memeras otak dan konsentrasi tinggi. Akan lebih arif jika memberi keleluasaan sesuai fitrah anak untuk dapat bermain, bergerak, dan mengekspresikan keceriaannya.

Bermain pada hakikatnya merupakan naluri anak-anak sebagai alat penyingkap bawah sadar, pelega emosi, dan media hiburan. Permainan seperti petak umpet, bebentengan, atau bola kaki, selain melatih keberanian dan menanamkan nilai kolektivitas, juga sangat baik bagi perkembangan motorik anak.

Hal penting bagi anak-anak, permainan membuat anak memperoleh ruang mengekspresikan luapan emosinya secara leluasa, seperti berjingkrak-jingkrak, berceloteh, saling bergurau, tertawa, dan ceria. Ekspresi keriangan ataupun teriakan spontanitas sesungguhnya amat baik untuk mengeluarkan segala bentuk unek-unek dan ganjalan yang menyumbat dirinya. Hal itu tidak didapat di lingkungan sekolah yang dibatasi waktu, aturan, dan jenjang sekat kelas.

Dalam liburan ini anak-anak dapat bermain dengan tidak lagi memandang batasan usia, kelas, ataupun asal-usul sekolah, tetapi terlibat dalam suasana asyik, riang, dan sukacita. Keceriaan yang dialami anak-anak membersitkan optimisme dan pertanda positif bahwa mereka tidak kehilangan masa kanak-kanak sebagai masa indah dan menyenangkan. Tentu ini selaras dengan pendapat Baden Powell (Bapak Pandu Dunia) bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia indah ini untuk hidup bergembira dan bahagia.

Liburan yang edukatif


Esensi liburan adalah beristirahat untuk mendapatkan kesegaran. Namun, jika diisi hanya dengan tidur atau sekadar berbaring bermalasan bukan kesegaran yang didapat, melainkan rasa lemas dan loyo. Selain bermain dengan kawan sebaya, bagi orangtua yang mempunyai cukup dana, anak-anak dapat diajak berekreasi ke sejumlah obyek wisata. Orangtua jangan egois, tetapi seyogianya mendengar aspirasi anak dalam menentukan pilihan obyek wisata yang dituju.



Ada baiknya, lokasi wisata dipilih karena, selain sebagai sarana melepas penat, juga memberi pembelajaran edukatif dan inspiratif. Ini cukup positif dan secara tidak disadari menunjang kegiatan kurikuler di sekolah. Sebab, berdasarkan realitas, pembelajaran di kelas sering kali terkendala minimnya alat peraga sehingga ada beberapa materi tidak terjelaskan di kelas.

Dengan mengunjungi Kebun Raya Bogor, Taman Mini Indonesia Indah, atau minimal kebun binatang, anak-anak setidaknya mendapat pengayaan wawasan secara kasatmata tentang flora dan fauna serta khazanah budaya Indonesia.

Boleh juga dicoba obyek wisata natural alam pegunungan, seperti Ciwidey, Lembang, atau Dieng. Lingkungan hutan berkabut, udara dingin, serta situasi syahdu dan alami amat inspiratif bagi anak-anak untuk mencintai lingkungan. Anak-anak pun dapat mengikuti kegiatan implementatif yang atraktif, seperti menjelajah kebun teh, menjadi petani kecil yang menanam, merawat, dan memanen sayuran, memetik buah stroberi, dan mengikuti kegiatan luar ruang.

Tidak semua obyek wisata edukatif harus merogoh kocek tebal. Orangtua dapat menemani putra-putrinya memilih berkunjung ke museum. Biaya kunjungan ke museum tidak besar, bahkan banyak tidak mengenakan tiket masuk. Di Bandung terdapat sejumlah museum yang menarik dikunjungi, seperti Museum Geologi, Museum Sri Baduga, Museum Mandala Wangsit, Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Pos dan Giro, atau Museum Arkeologi.

Selain menyimpan sejumlah koleksi benda bersejarah, museum tersebut juga dilengkapi buku panduan, buku indeks, leaflet, dan situs web. Selain itu, museum juga menyediakan literatur, menyelenggarakan pameran, dan menayangkan slide atau film. Selain menikmati, pengetahuan pun bertambah dan anak diajari berbagai kearifan masa lalu sebagai inspirasi kehidupan masa kini dan akan datang.

Mengisi liburan pun dapat dilakukan dengan mengajak anak-anak berjalan pagi dan berlari pagi bersama, menemani bermain layang-layang, atau mengunjungi lokasi perajin, petani, atau peternak di sekitarnya. Kegiatan yang terjadi di lokasi tersebut dapat menjadi pengalaman berharga bagi anak. Liburan pun dapat diisi dengan kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga di rumah, seperti membersihkan taman rumah, mencuci mobil, mengecat pagar, atau memasak di dapur.

Suasana hangat dan santai dapat menjalin ikatan emosional dalam keluarga lebih erat. Kegiatan rileks lainnya antara lain mengajak anak berkunjung ke mal, toko buku, dan pameran, atau menonton film dan pergelaran kesenian. Di samping itu, liburan pun dapat diisi dengan kegiatan membaca, yakni membaca buku-buku yang bersifat ringan, seperti dongeng, komik, atau humor.



Tentunya interaksi, kedekatan, dan keterbukaan melalui diskusi antara orangtua dan anak amat berharga sebagai wujud perhatian dan kasih sayang-suatu fenomena yang semakin langka dewasa ini. Akhirnya, liburan bukanlah ajang pemborosan anggaran atau memanjakan diri (bermalas-malasan). Liburan memberi dimensi kualitas, yakni memiliki aspek manfaat dalam mengendurkan urat saraf (stres), menambah wawasan dan pengalaman, membuat keluarga harmonis, dan sudah tentu menyenangkan, serta memberi kesegaran dalam memberi energi baru berupa optimisme memulai kembali bekerja.

Bagi anak-anak, liburan dapat memberi pengayaan wawasan dan pengalaman sehingga melahirkan spirit dan motivasi untuk kembali belajar semakin tekun, kompetitif, dan berprestasi. Semoga liburan Anda kian bermakna!

Penulis, Guru SDN Taruna Karya 04,
Kecamatan Cibiru, Kota Bandung

Jumat, 20 Maret 2009

EKSPLORASI GERAK DALAM ”KAULINAN BARUDAK”, Anjungan, Kompas Lembar Jawa Barat, Sabtu, 17 Mei 2008


OLEH : AJENG KANIA

“Kaulinan barudak” atau permainan anak yang berbasis gerak seperti: bebentengan, galah, ucing sumput, perang-perangan, dan lain-lain semakin tersisih akibat pergeseran gaya hidup dan tergerusnya lahan anak bermain. Padahal, dengan mengeksplorasi gerak dapat tercipta kualitas masyarakat yang sehat, energik dan ceria.

“Kaulinan barudak” yang diturunkan antargenerasi secara tradisi menjadi permainan rakyat (folklor), sesungguhnya kaya akan nilai kolektivitas, edukasi, dan sumber keceriaan anak. Di samping itu, kaulinan barudak pun mampu menjadi media mengeksplorasi lingkungan sesui dengan fitrah anak untuk bermain, bergerak, dan menjadikan budaya gerak di kalangan mereka.

Nilai kolektivitas efektif sebagai sarana bergaul, memahami perbedaan, dan merajut jiwa korsa (kerjasama). Sementara ditinjau dari unsur edukasi, “kaulinan barudak” mendorong anak aktif, disiplin, taat asas, menghormati, dan legawa saat kalah-menang dalam permainan. Yang tak kalah penting, lewat “kaulinan barudak”, anak-anak bisa mengekspresikan emosinya seperti: berteriak, menghela nafas, bersenda gurau, tertawa lebar, dan ceria.

Kaulinan barudak yang semestinya merupakan sarana anak bergaul dan mengeksplorasi budaya gerak kini berangsur ditinggalkan. Perubahan gaya hidup yang terjadi di masyarakat membuat orang tua semakin memanjakan anak-anak mereka dengan permainan digital. Akibatnya, anak-anak lebih banyak tenggelam di kamar masing-masing, asyik dalam Playstation, permainan di komputer, Nintendo, atau menonton film kartun yang relatif statis (diam berjam-jam).

Bila dicermati, permainan digital serba otomatis cenderung mematikan inisiatif dan kreativitas anak. Ditinjau aspek sosial, hal ini merugikan anak. Anak dibuat betah tepekur mengisolasi diri berjam-jam. Ini kontra-produktif dengan fitrah mereka yang memerlukan kelompok sebaya dan realitas dunia bermain yang banyak mengeksplorasi gerak dan ceria.

Adapun ditinjau dari aspek kesehatan, gejala hipokinetik (gejala penyakit kurang gerak) dapat menjadi ancaman serius bagi kualitas kesehatan bangsa di masa depan. Berkolaborasi dengan tren gaya hidup serba instan dan makanan lezat kaya lemak, gejala hipokinetik memacu kegemukan tubuh (obesitas), yang ditandai kondisi fisik anak cenderung lamban, mudah lelah, dan malas.

Berbagai potensi penyakit sebenarnya dapat dicegah dengan aktivitas berbasis gerak, pola hidup sehat, serta asupan gizi berimbang. Masyarakat yang dalam aktivitas sehari-hari semakin tergantung pada kendaraan sekali-kali dapat menggerakan tubuhnya dengan berjalan kaki. Bial biasanya naik-turun eskalator atau lift, sekali-kali diusahakan naik-turun melalui anak tangga. Kaulinan barudak di samping memiliki kearifan nilai-nilai kehidupan, juga amat penting karena eksplorasi gerak tubuh mereka berguna bagi pertumbuhan jasmani dan kesehatan sebagai investasi berharga menghadapi masa depan.


ruang publik

Faktor lain penyebab ”kaulinan barudak” semakin ditinggalkan adalah kian sempitnya lahan bermain anak. Kaulinan barudak seperti galah yang bisa dilakukan anak-anak pada malam bulan purnama memerlukan lahan luas. Dalam permainan inisatu per satu anak dalam kelompoknya harus melewati ”kamar” satu - petak ditandai kapur atau air - ke kamar lain sehingga ujung dan kembali lagi dengan garis dijaga pihak lawan. Bila salah satu anggota dapat tersentuh pihak lawan, berarti permainan beralih. Permainan ucing sumput, bebentengan, peperangan, dan lain-lain pun tidak leluasa dilakukan di sebuah gang sempit, apalagi ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, orang, dan gerobak.



Kesulitan memiliki halaman sekolah yang representatif pada sebuah satuan pendidikan, terutama sekolah dasar di perkotaan adalah realitas. Tidak sedikit sekolah bangga jika mampu membangun ruang kelas baru meskipun harus menggusur lahan bermain anak. Lahan bermain anak di masyarakat juga semakin tergerus oleh pemukiman penduduk yang semakin padat. Adapun para pengembang perumahan alpa menyediakan ruang publik di komplek perumahan. Arena bermain anak kini banyak dijumpai di mal atau arena outbond yang jelas hanya dapat dijangkau kalangan tertentu.

Tampaknya kebutuhan ruang publik gratis bagi masyarakat menjadi masalah urgen. Pemerintah daerah, pengembang, pihak swasta dan masyarakat sendiri harus berusaha menyediakan ruang publik sebagai sarana warga mengekspresikan aktivitas berbasis gerak, seperti berolah raga dan bermain.

Dengan aktivitas kebugaran jasmani – permainan berbasis gerak, olah raga dan sebagainya – segala penyakit yang berhubungan dengan aliran darah seperti tekanan darah, kolesterol, denyut nadi, dan jantung tidak menjadi soal. Kapasitas darah pembawa oksigen yang semakin besar juga membuat tubuh terasa segar. Aktivitas gerak efektif mengurangi lemak tubuh sehingga mempercantik tubuh (atletis). Satu hal penting, aktivitas gerak membuat pikiran lebih segar dan jernih. Anak-anak bakal lebih lincah, sehat dan ceria.

Awas kios liar

Andaikata sudah terwujud, hendaknya ruang publik dipertahankan sebagai pusat kegiatan warga untuk berolahraga. Kalau tidak, bukan tidak mungkiin tempat tersebut bakal dihuni kios-kios liar yang kumuh. Atau pada Minggu pagi lahan yang sem,estinya digunakan kegiatan olahraga malah dihuni pedagang kaki lima yang memanjakan naluri konsumtif warga dengan aneka fashion, kuliner, dan sebagainya.

Kalau sudah begitu, suasana Minggu pagi yang semestinya rileks, segar, ceria, dan saling menebar senyum saat berolahraga berubah menjadi penat dan sumpek ketika orang berdesak-desakan berbaur dengan kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan sehingga membuat kepala bertambah pening. Contohnya ialah di Lapangan Gasibu.

Akibat minimnya ruang publik, ketika bermain anak-anak harus berebut tempat dengan kendaraan yang saling serobot. Selain tidak aman, sumbangnya suara knalpot dan pekatnya asap kendaraan membuat tidak nyaman. Masih adakah ruang publik gratis untuk jogging, anak-anak bermain dengan sebayanya, atau sekadar menggerakkan otot kaki? (**)


Penulis, guru Penjaskes,
SDN Taruna Karya 04, Kecamatan
Cibiru – Bandung

”NGADU LANGLAYANGAN” PERMAINAN PENUH INSPIRASI DAN MENGASYIKAN, Anjungan: Kompas Biro Jawa Barat, hari Sabtu, 15 Nopember 2008


OLEH : AJENG KANIA

Permainan “ngadu langlayangan” mengasyikan. Bukan cuma anak-anak, orang dewasa pun sering turut larut beradu kelihaian dan menguji ketajaman tali “gelasan” ini. Ngarucu (mengejar layang-layang putus milik orang lain) pun tak kalah unik. Mendapatkan sejumlah layang-layang putus dapat menaikkan statusnya makin disegani rekannya. Karena tidak jarang rebutan layang-layang berakhir di-jojoet (dirusak secara bersama-sama).


Hasrat memainkan layang-layang umumnya selalu menggelora – tak terkecuali orang dewasa - meskipun realitas suasana dan kondisi lingkungan telah berbeda. Nostalgia tempo dulu di desanya yang masih didominasi ruang terbuka mampu membangkitkan sisi kanak-kanaknya untuk bersuka ria melupakan problematika kehidupan sejenak. Suasana hati senang dan santai dapat menciptakan suasana rileks dan dapat mengembalikan kesegaran pikiran mereka.

Minimnya arena tanah lapang membuat bermain layang-layang dibayangi sejumlah risiko. Bahaya permainan layang-layang di jalan raya bukan saja bagi dirinya tetapi orang lain. Benang gelasan yang melintang di tengah jalan akan melukai pengendara sepeda motor atau pejalan kaki. Benang dan layang-layang sering menyangkut pada jaringan listrik memaksa petugas PLN harus ekstra membersihkannya. Bahkan penggunaan gelasan dan tali kawat dapat menimbulkan bahaya lebih besar yakni konsluiting listrik dan tersengat aliran listrik. Begitu pun bagi anak biasa ngarucu, seringkali mengabaikan keberadaan lubang galian atau lalu-lalang kendaraan seringkali mencelakakan dirinya.

kaya inspirasi

Permainan layang-layang sudah dikenal ribuan tahun lalu. Menurut situs wisatanet.com di Museum Layang-layang Indonesia Jl. H Kamang 38 Pondok Labu Jakarta terdapat layang-layang berusia 4.000 tahun lalu dengan panjang 130 cm dan lebar 120 cm. Permainan ini cukup membumi di belahan Nusantara dan menjadi tradisi sebagai permainan rakyat (folklor). Permainan layang-layang sesungguhnya amat baik bagi anak-anak. Dari permainan itu didapat semangat kerjasama, mengenal alam dan semangat kerja keras. Kaulinan ini pun mampu menjadi media mengeksplorasi lingkungan sesuai dengan fitrah anak untuk bermain, bergerak, dan sumber keceriaan. Dapat dibandingkan, anak-anak mengakrabi permainan ini memiliki kemampuan motorik lebih yakni lebih gesit, cekatan, dan lincah dibandingkan anak dibesarkan oleh permainan digital.

Selain cukup tersedia di warung-warung, layang-layang bisa dibuat sendiri. Untuk membuat layang-layang konvensional sederhana, cukup dibutuhkan dua bilah buluh (bambu) yang sudah diraut, benang, lem, kertas serta kuas dan beberapa cat untuk melukis. Motif dominan layang-layang adu disukai anak-anak berupa garis berwarna merah dan biru. Setelah diberi tali timba, layang-layang siap mengangkasa.

Di kalangan anak-anak, ada sejumlah sejumlah aturan tidak tertulis yang dihormati oleh mereka. Contohnya, layangan menggunakan ekor panjang diasumsikan milik anak kecil sehingga dilarang untuk disambar. Begitupun layangan berbeda ukuran baik ukuran jumbo (besar) atau kecil juga pun layangan hias pantang untuk diadu. Pada kasus layang-layang putus, dapat di-rucu oleh siapa pun. Dan bagi yang menyentuh pertama kali maka dialah berhak memiliki layang-layang tsb. Uniknya, bila ada dua atau lebih anak berebut layangan tanpa bisa diputuskan pemenangnya segera, solusinya di-jojoet (dirusak sama-sama). Anehnya, mereka menerima keputusan jojoet ini sebagai keputusan adil (fair) terbukti mereka rukun kembali.

Lalu mengapa anak-anak tetap asyik bermain di jalan raya atau pemukiman padat? Mestikah orang tua secara ekstrim melarang anak bermain layang-layang? Sikap anak-anak tetap memaksa memainkan layang-layang di tempat sempit, kalau dihayati, mungkinkah sebuah bentuk protes atas ketidaktersediaan tanah lapang dan ruang publik bagi mereka? Ruang terbuka makin tergerus oleh derap laju pembangunan yang ironinya merampas ruang yang sejatinya sarana anak-anak bermain. Padahal dengan permainan ini anak belajar mengembangkan potensi dirinya dan beraktualisasi, bergaul, menghormati hak-hak orang lain, taat asas dan kehidupan sosial dengan sebayanya.

Dalam hal ini perlu perhatian orang tua untuk menyikapi fenomena di atas secara bijak tanpa membunuh kreativitas anak. Perlu solusi cerdas untuk menjadikan permainan layang-layang tetap dinikmati, aman dan mengasyikan. Artinya: permainan dijamin aman dan hobi tidak tersumbat. Beberapa langkah dapat ditempuh : (a) menemani anak bermain di tanah lapang sekaligus mengisi waktu luang. Sentuhan dan perhatian ini akan membahagiaan anak merasa dihargai dan diperhatikan; (b) mengadakan pekan layang-layang di tingkat lokal (seperti: RW/kelurahan). Cara efektif melokalisir arena permainan dan mereduksi risiko bahaya. Bagi komunitas penggemar layang-layang dapat digunakan media berkomunikasi, berbagi informasi dan berinteraksi; (c) mengadakan kejuaraan atau festival layang-layang. Cara ini sangat baik untuk mengasah kreasi, imajinasi dan prestasi anak. Momen ini tidak lagi mengarahkan bermain layang-layang saling mengalahkan dengan memutus talinya, tetapi penilaian aspek seni dan kreativitas seperti: keunikan, motif hias, ketinggian, atau kemampuan manuver di angkasa.

Bila diresapi, permainan layang-layang ini kaya inspirasi. Bukankah Benjamin Franklin menemukan arus listrik dan penangkal petir berdasarkan logika dan eksperimen yang diperoleh ketika bermain layang-layang? Permainan ini membantu untuk memahami logika alam, bagaimana tenaga angin bisa menerbangkan sebuah benda ke angkasa. Energi ini pula menginspirasi para ahli untuk melirik layang-layang dapat menggerakan turbin sebagai alternatif sumber listrik di masa depan. Di saat mata tengadah, layang-layang ibarat noktah ditelan luasnya cakrawala mengingatkan diri kita, betapa kecil kita di hadapan-Nya sekaligus membuktikan betapa agungnya Sang Pencipta. (**)

Penulis, Guru SDN Taruna Karya 04,
Kecamatan Cibiru – Bandung